Kamu, adalah nama yang paling sering aku bicarakan dengan Tuhan. Di
ujung-ujung doaku, di tepian sujud-sujudku, nyaris tak pernah lupa
kusebut namamu. Meski tanganku tak pernah terlalu dekat meraih ragamu,
tapi bait-bait doaku kupastikan menemani setiap langkah dan hari harimu.
Kamu, adalah raut wajah yang paling sering tampak di setiap kali aku
memandang jendela kereta. Walaupun yang terhampar di hadapanku hanyalah
bumbung-bumbung sawah berwarna hijau, tapi tetap raut wajahmu yang
menguasai seluk beluk penglihatanku.
Kamu, adalah tetes hujan yang kubiarkan mengalir di sisi wajahku.
Mengalir dalam buaian yang tanpa berima, menyatu menjadi air mata, lalu
menyembunyikan semua gundah gulanaku dalam tawa yang tersungging di
sudut bibir.
Kamu, adalah langkah yang tak terengkuh, membiarkanku jatuh tanpa
sempat tergapai tangan, memberikanku ruang-ruang untuk berharap lalu
merindu tanpa berkesudahan. Dan aku, memilih untuk terlarut dalam
pengharapan yang kamu berikan.
Kamu, adalah segumpal bayang di masa lalu, namun menepak dan membekas
dalam jangka dimensi waktu yang Tuhan hanya tau. Toh, setiap bayang
pernah engkau titipkan telah aku tabung dalam deposito perasaan yang aku
kunci rapat rapat.
Ini, masih tentang (kamu). Membuka cerita cerita lalu adalah sebuah
pengantar menuju langkah yang lebih baru. Dan kamu, memenuhi hampir tiap
halaman dari bab cerita masa laluku.
Dan tulisan ini, masih tentang (kamu).
#SerpihanPuisi #RePost
Sabtu, 28 Desember 2013
Langganan:
Postingan (Atom)