JellyPages.com

Kamis, 10 Maret 2016

Asam manis senja di hari kamis

Aku fikir sedari senja di hari kamis ini aku akan bahagia. Iya, bahagia karena masih diberi kesempatan melihat cahaya yang bersinar di bola matamu.
Sebelumnya, aku ingin memperkenalkan ALAN. ALAN adalah panggilan dari sahabat jalan. Sahabat jalan yang aku maksud adalah kendaraan roda dua yang sering menemani kemana saja tujuan yang aku mau, Alan yang tak pernah bosan mendegar apapun ceritaku disepanjang jalan...kenangan. Ah!

Kala senja tiba, aku dan Alan pergi ke suatu tempat yang ramai, pokoknya ramai bagiku. Saat sudah sampai, aku ingin masuk tapi tidak bisa karena didepan ada yang menghalangi Alan. Aku pun membunyikan klakson Alan agar pengendara yang menghalangiku itu segera menepi. Tapi ia tidak juga menepi. Benar-benar!
Aku lihat saja siapa yang menghalangiku, tapi aku seperti mengenali kendaraan beserta sang pengendaranya. Kendaraan yang berwarna hitam putih dan sang pengendara yang mengenakan atasan kemeja flanel, bawahan celana jeans beserta helmnya yang berwarna hitam. Lalu aku lihat sosok di balik kaca helm itu, dan kontras!
Aku melihat ada cahaya di balik helm itu dan ternyata itu adalah cahaya indah di bola matanya...
Ah! Aku benar mengenalinya.
Awalnya aku ingin marah karena sang pengendara itu menghalangiku, tapi saat aku mengenali siapa sosok dibalik kaca helm itu, aku urungkan rasa marahku. Hebatnya, rasa marah itu berubah jadi rasa bahagia. Iya, bahagia karena bisa melihatnya lagi. Melihat bola matanya yang indah itu.
Aku berani menegurmu kan di awal saat kamu menghalangiku, meski lewat suara klakson dari Alanku. Aku senang.
Tapi, maaf juga aku lancang menepuk lenganmu. Maksudku menepuk lenganmu sebenarnya itu adalah tanda bahagia bisa melihatmu lagi. Dan aku senang lagi. Dan ini karena senja.
Terima kasih senja.
Senja di hari kamis yang manis.
Aku jatuh hati padamu.

Rabu, 02 Maret 2016

Menunggu senja tiba

Kau tahu apa yang aku tunggu ketika aku berada di pantai kala itu?
Aku menunggu senja.
Aku menunggu kapan senja itu akan tiba.
Aku memendam rasa penasaran terhadap senja.
Tapi, senja tak terlihat.
Yang aku lihat malah pasir dan ombak di pantai itu.
Pasir?
Kalau lihat pasir rasanya aku ingin menuliskan namamu diatasnya, tapi... aku tuliskan inisial namaku saja.
Ombak?
Kalau lihat ombak yang kadang tenang dan kadang terombang-ambing ia seperti menyampaikan sebuah isyarat.
"Terkadang hidup memang seperti ombak tapi kau tak perlu khawatir, akan terkendali tergantung dari caramu menghadapinya". begitu kata Ombak padaku.
Seketika pasir dan ombak mengalihkan perhatianku terhadap senja.
Tapi, aku tetap pada senja.
Aku tidak menyerah.
Aku tidak ingin pulang sebelum melihat senja.
Aku akan tetap menunggu.
Biar, menunggu sendiri pun tak apa.
Sekian lama aku nenunggu, senja tak kunjung terlihat juga.
Mungkin aku harus menepi ke pinggir pantai itu.
Aku menepi untuk melihat lebih dekat kapan senja itu akan tiba.
Yang aku tahu, senja akan tiba saat warna langitnya berubah menjadi jingga.
Tapi...
Saat warna langitnya berubah menjadi jingga, aku masih belum melihatnya.
Dimanakah kau senja?
Saat aku mencoba untuk menepi selangkah lebih dekat lagi, yang aku lihat diujung sana malah ada kabut-kabut awan.
Apa kau berada dibalik kabut-kabut awan itu?
Mengapa kau tak tampak?
Padahal aku melihat sebagian cahaya senjamu dibalik kabut awan itu.
Tak apa, sebagian pun aku tetap bersyukur dan cukup senang.
Aku izin pulang, karena langit sudah terlihat semakin gelap.
Terimakasih senja...